<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-254814692294211571</id><updated>2011-04-21T14:40:39.273-07:00</updated><title type='text'>MUHTADIN CENTER</title><subtitle type='html'>SILIH ASAH SILIH ASUH SILIH ASIH...!
SALAM MAHASISWA!
SALAM PERGERAKAN!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://muhtadinreform.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/254814692294211571/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhtadinreform.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>M.MUHTADIN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06670739054270765445</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uYxdKulZfU8/SXAReQ1DSdI/AAAAAAAAAEA/Y3BjcFJDfow/S220/meee.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-254814692294211571.post-8817682001150281898</id><published>2009-05-06T19:40:00.000-07:00</published><updated>2009-05-06T19:42:24.218-07:00</updated><title type='text'>REPOSISI ORGANISASI  KELUARGA PELAJAR DAN MAHASISWA DAERAH  SEBAGAI EKPRESI DAN ARTIKULASI PENGEMBANGAN POTENSI*</title><content type='html'>Oleh : Muhtadin&lt;br /&gt;PADMANAGARA XX&lt;br /&gt;Ketua umum KPM Galuh Rahayu Periode 2009-2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan melakukan pengkhianatan intelektual (the treason of intelectual), karena itu akan menciptakan intelektual salon yang terkapar oleh kepentingan dunia, dan itu akan menjadi penyakit di tengah bangsa yang sakit” (Amien Rais)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi Mahasiswa adalah hal yang unik dan penuh dengan dinamika, kontroversi dan intelektual, ketika mahasiswa dituntut untuk melakukan dinamika, maka seorang mahasiswa tidak akan lepas dari tuntutan akademik, pada saat mahasiswa dituntut tetap menjaga idealisme sebagai seorang mahasiswa, justru mahasiswa berubah manjadi pragmatis, hedonis dan melakukan kontroversi, suatu ketika mahasiswa di bebani sebagai agent sosial of change, maka mahasiswa harus memainkan peran sebagai aktor intelektual yang dalam keseharian harus bergelut dengan buku, berwacana dengan isu yang berkembang dan berdiskusi, guna menyalurkan libido intelektual.&lt;br /&gt;Tuntutan akan kualitas pendidikan dan intelektualitas yang mumpuni rupanya menimbulkan minat dari kalangan mahasiswa untuk melakukan ekspedisi pendidikan dalam suasana perantauan ke luar daerah. Dan pada gilirannya mahasiswa daerah tersebut membentuk ruang-ruang dalam bentuk organisasi mahasiswa daerah. Semua itu dilakukan untuk memenuhi tanggung jawab sosial dan menjawab kualitas pendidikan yang selama ini telah diragukan oleh masyarakat.&lt;br /&gt;Berawal dari persoalan perantauan dalam ekspedisi pendidikan, kebiasaan umum dari para pencari ilmu adalah membentuk sebuah komunitas yang berfungsi sebagai dasar bergaining position ketika suatu saat nanti mahasiswa yang melakukan perantauan melakukan gerakan pulang kampung. Dan Mahasiswa yang melakukan perantauan dalam ekspedisi pendidikan akan melakukan gerakan pulang kampung, maka daripada itu perlu di bentuk sebuah wahana dan wadah peletakan bergaining position mahasiswa perantauan, yang di wujudkan dengan organisasi-organisasi mahasiswa daerah. &lt;br /&gt;Ada dua pandangan saling bertentangan  dalam menyikapi dinamika wadah  bergaining position mahasiswa daerah atau yang lumrah disebut dengan organisasi Keluarga Pelajar dan Mahasiswa  Daerah yang kiranya patut menjadi bahan perenungan. Pertama menganggap Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Daerah tidak memiliki signifikansi yang cukup besar dalam proses intelektual mahasiswa, pada tingkatan paling ekstrim Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Daerah pada akhirnya dianggap akan membentuk chauvinisme yang berefek negatif terhadap rasa nasionalisme kita karena telah terbelah melalui keungggulan dan kelebihan daerah masing-masing. Kedua mengganggap bahwa Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Daerah memberikan efek positif terhadap persatuan dan kesatuan mahasiswa yang melakukan perantauan dalam menuntut ilmu, tidak sekedar wadah kongko-kongko sesama orang perantauan, tetapi lebih dari itu esensi yang hendak di capai adalah posisi tawar dalam dinamika kedaerahan – baik bargaining secara politik, ekonomi, sosial dan budaya. &lt;br /&gt;Secara konseptual bahwa organisasi mahasiswa daerah merupakan peluang yang sangat besar bagi pengembangan potensi kreatif mahasiswa. Karena dalam organisasi inilah mahasiswa daerah bisa mengekpresikan jati dirinya secara riil, mengaktualisasikan potensi kreatifnya serta memberikan legitimasi terhadap eksistensinya. sebagai organisasi mahasiswa daerah, merupakan pemasok dan pemasak kemampuan konseptual dan praktikal dalam perspektif sosial kemasyarakatan di daerah.&lt;br /&gt;Dalam konteknya, secara umum tantangan organisasi mahasiswa daerah adalah, lemahanya etos mahasiswa daerah untuk mampu menempatkan organisasi mahasiswa daerah sebagai sarana berekpresi dan artikulasi pengembangan potensi. Sikap apriori yang berlebihan menjadikan mahasiswa memandang bahwa berorganisasi tidak lebih dari sekedar buang-buang waktu, energi dan tenaga. Lebih lebih ketika mahasiswa daerah kita sudah diwarnai oleh sikap pragmatis dalam memendang semua persoalan. Bahwa untung dan  rugi yang dimaknai secara material, betul-betul akan mampu menutupi idealisme bagi masa depan dirinya.&lt;br /&gt;Terakhir, saya berfikir setidaknya mahasiswa yang tergabung dalam organisasi daerah masih memiliki setitik harapan dan seberkas cahaya terang tanggungjawab sosial karena tanggung jawab sosial menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan dari dinamika kehidupan mahasiswa.&lt;br /&gt;Akhirnya, marilah kita membuka paradigma berpikir yang kritis, kreatif, inovatif untuk memaksimalkan peran serta generasi muda dalam pembangunan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disampaikan pada Silaturahmi awal Pengurus KPM "Galuh Rahayu" Ciamis-Yogyakarta Periode 2009-2010 oleh Padma XX&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/254814692294211571-8817682001150281898?l=muhtadinreform.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/254814692294211571/posts/default/8817682001150281898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/254814692294211571/posts/default/8817682001150281898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhtadinreform.blogspot.com/2009/05/reposisi-organisasi-keluarga-pelajar.html' title='REPOSISI ORGANISASI  KELUARGA PELAJAR DAN MAHASISWA DAERAH  SEBAGAI EKPRESI DAN ARTIKULASI PENGEMBANGAN POTENSI*'/><author><name>M.MUHTADIN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06670739054270765445</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uYxdKulZfU8/SXAReQ1DSdI/AAAAAAAAAEA/Y3BjcFJDfow/S220/meee.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-254814692294211571.post-8124848929661007236</id><published>2009-01-24T19:24:00.000-08:00</published><updated>2009-01-24T19:41:22.836-08:00</updated><title type='text'>PROBLEMATIKA DAN REALITAS ORGANISASI MAHASISWA DAERAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;...Sesikit membaca sejarahnya bahwa Mahasiswa mendapat porsi istimewa dalam sistem rotasi bangsa ini...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Muhtadin*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fenomena organisasi daerah adalah realitas klasik bagi masyarakat intelektual (baca : mahasiswa) Indonesia, terutama yang menjalani masa studinya di luar daerah asalnya. Salah satu catatan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan, peran organisasi pemuda daerah, mutlak memainkan bagian penting dalam keseluruhan skenario perjuangan bangsa Indonesia. Masih terlalu melekat dalam ingatan bangsa Indonesia,28 Oktober 1928, kurang lebih 76 tahun yang lalu,betapa pernyataan bersama dari organisasi pemuda di seluruh penjuru tanah air seolah menjadi penyejuk di tengah gerahnya para pejuang akan penjajahan yang dialami, dan menjadi penyulut semangat perjuangan yang telah kelelahan. Dengan pernyataan bersama sebagai sebuah komitmen untuk berbangsa, bertanah air dan berbahasa satu dalam ruang perjuangan itu memandu arah perjuangan yang tadinya terpecah, menjadi lebih terintegrasi dan strategis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dalam dinamika perkembangan bangsa, dimanapun, sulit untuk dihindari bahwa peran generasi muda sangat vital bagi konsistensi sebuah perjuangan. Dalam babak-babak perjuangan, baik merebut, mempertahankan atau membangun sebuah kemerdekaan, kontribusi dari generasi muda seakan menjadi satu-satunya tolok ukur dan indicator bagi keberhasilan perjuangan tersebut. Budi Utomo, Sumpah Pemuda adalah salah satu contoh wakil genre dan hasil dari upaya pemuda sebagai pendobrak perjuangan bangsa ini. Simak juga kekhawatiran seorang JFK terhadap kecenderungan yang mewabah di kalangan muda Amerika sebagai dampak pasca pemberlakuan wajib militer bagi perang-perang yang dilakukan Amerika. Al hasil, segala upaya yang dilakukan diarahkan dalam kerangka mereduksi dan bahkan menghilangkan trauma yang terjadi. Bahkan dalam beberapa kejadian baru dalam dinamika nasional, peran mahasiswa sebagai intelektual muda adalah salah satu pull factor bagi beberapa perubahan tatanan bangsa. Demikian pentingnya peran generasi muda, sehingga bukan hanya nasib sebuah bangsa yang menjadi taruhan, bukan tidak mungkin nasib peradaban sangat ditentukan oleh kelas ini&lt;br /&gt;Belakangan, entah dikarenakan cepatnya dinamika bangsa Indonesia yang tengah menata kembali fondasi dan tatanan serta arah perjuangan yang sempat tercabik-cabik oleh ganasnya dinamika di luar, ditambah wacana tentang globalisasi, berbagai gagasan tentang peran sentral generasi muda seakan-akan terabaikan. Bahkan oleh kalangan generasi muda itu sendiri. Perubahan dalam berbagai aspek bangsa ini menimbulkan kegamangan yang luar biasa bagi generasimuda dalam menentukan sikapnya. Dalam mengahadapi realitas inilah, sangat penting bagi generasimuda untuk tetap konsisten melakukan re interpretasi dengan kualitas dan kecepatan yang sangat tinggi.&lt;br /&gt;Isu-isu globalisasi, sebagaimana dimunculkan di awal, dengan berbagai indikator-indikatornya memiliki andil besar bagi perubahan-perubahan yang terjadi. Perkembangan teknologi yang berakibat pada cepatnya arus informasi yang kian memudahkan lalu lintas ide dan gagasan bahkan dalam skala global sekalipun. Tanpa adanya pemahaman yang utuh terhadap berbagai perubahan tersebut, nilai-nilai yang telah tumbuh dalam sebuah masyarakat dan telah menjadi fondasi berdirinya sebuah bangsa sebesar Indonesia akan tereduksi dan terlupakan. Bukan tidak mungkin, dengan berbagai potensi sosialkultural yang dimiliki Indonesia akan menjadi potensi konflik dan menyerang balik integrasi bangsa se-heterogen Indonesia.&lt;br /&gt;Yang menjadi focus permasalahan adalah peran sentral generasi muda (baca : mahasiswa) sebagai penggerak utama dalam kaitannya dengan fenomena organisasi daerah. Fenomena organisasi daerah yang banyak dijumpai terutama di kota-kota yang menjadi pusat tujuan pendidikan, mutlak tidak akan ada tanpa keberadaan mahasiswa sebagai aktor utamanya. Hubungan yang telah menjadi keniscayaan tersebut belakangan agaknya merenggang. Terkait dengan berbagai dampak globalisasi yang mengantarkan manusia pada pemahaman yang lebih dari sekedar modern. Faham yang dikenal dengan istilah posmodernisme ini telah merambah ke berbagai aspek kehidupan manusia. Bahkan tanpa kita sadari sudah sedemikian dekat, sekedar contoh adalah pola konsumsi yang kita lakukan seringkali bukan dalam rangka menjawab kebutuhan yang masing-masing memiliki level pemenuhan sendiri, tapi lebih pada konsumerisme yang “membabi buta”. Contoh tersebut sekedar menunjukan betapa perilaku kita telah berubah dan seringkali perubahan tersebut bukan perubahan yang progresif realistis. Kita telah dengan mentah-mentah menelan apa yang ada tanpa ada upaya untuk membaca kembali secara utuh fenomena yang terjadi dalam dinamika kehidupan kita. Output dari kian maraknya fenomena seperti ini adalah generasi-generasi “pop”. Bukan pop dalam pengertian sebenarnya yang memiliki kriteria-kriteria sendiri, tapi lebih kepada “asal pop”.&lt;br /&gt;Realitas sosial seperti kecenderungan “asal pop” menyeret generasi muda kita untuk lebih menerima apa yang menjadi trend, yang lebih mayor. Sementara berbagai faham dan realitas yang minor terlupakan begitu saja dengan berbagai ungkapan apatisme di sepanjang jalannya. Eksistensi organisasi daerah dan pandangan yang berkembang tentang eksistensinya tersebut pada akhirnya terimbas. Perspektif lain yang agak lebih baik adalah tetap mengakui eksistensi organisasi daerah, namun eksistensi tersebut dianggap sebagai sebuah end product yang tidak memerlukan analisa kritis lagi untuk tetap relevan dengan tuntuan perkembangan peradaban secara umum.&lt;br /&gt;Dalam tahapan awal proses belajarnya, kebanyakan orang akan berangkat dari pertimbangan yang sangat pragmatis (like and dislike). Di lain pihak, kejiwaan generasi muda yang lebih sensitive terhadap sesuatu yang “baru”, berhadapan dengan permasalahan globalisasi dan berbagai konsekuensi logis, baik yang telah terpetakan maupun yang belum, pada akhirnya berdampak pada perspektif berpikir yang apologis dan cenderung apatis, apalagi terkait dengan organisasi daerah. Generasi muda yang semestinya menjadi pionir bagi eksistensi organisasi daerah, terjebak dalam kompleksitas permasalahan sebagaimana terurai di atas. Ditambah image yang seringkali dikaitkan antara organisasi daerah dengan “penguasa” berujung pada sebuah kesimpulan prematur bahwa organisasi daerah adalah kepanjangan tangan penguasa, keterjebakan yang dialami oleh generasi muda dan organisasi daerah sebagai entitas independen kian rumit untuk diurai.&lt;br /&gt;Berikutnya apakah organisasi daerah masih cukup relevan dan efektif sebagaimana gagasan awal yang menjadikan organisasi, baik yang bersifat kedaerahan maupun di luar itu sebagai sebuah media bagi generasi muda untuk tetap berproses di luar proses formal yang harus mereka jalani. Apakah organisasi daerah masih dapat memfasilitasi semangat-semangat kolektif yang telah terbukti mampu mengentaskan bangsa ini dari permasalahan penjajahan?&lt;br /&gt;Adalah sebuah kesalahan ketika permasalahan telah dimunculkan, dan bukannya berupaya untuk menjawab atau paling tidak menentukan sikap yang “benar”, sehingga kegamangan tidak lagi menjadi dominasi generasi muda. Bukan tidak mungkin posmodernisme yang menghasilkan dampak berupa kecenderungan individualisme ditambah dinamika nasional seperti fenomena otonomi daerah dan kegamangan yang mewabah pada generasi muda bukan tidak mungkin isu-isu separatisme akan menjadi permasalahan krusial bagi bangsa ini. LAGI!!&lt;br /&gt;Dari sekian gambaran permasalahan yang harus dihadapi generasi muda, berikutnya organisasi daerah yang terimbas pada skala yang lebih besar lagi, bangsa ini, solusi yang ditawarkan di sini adalah sesuatu yang sederhana. Kotradiktif dengan gambaran permasalahannya, solusi tersebut adalah gagasan re-thinking yang dipadukan dengan kecepatan respon dalam membaca dan menyikapi dinamika kehidupan subjek dan objek kajian, yaitu generasi muda dan organisasi daerah. Namun solusi tersebut masih terlalu kualitatif untuk langsung diimplementasikan pada kondisi yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Masalah apatisme yang mewabah di kalangan muda, belum serumit permasalahan lain semacam dehumanisasi, dan demoralisasi, meskipun masalah tersebut saling terkait. Apatisme ini tumbuh subur dikarenakan beberapa sebab utama, terutama tingkat kejenuhan generasi muda mengenai fenomena objek (organisasi daerah) yang terkesan monoton, dan “itu-itu aja”. Bagi kebanyakan generasi muda, kecenderungan untuk mendapatkan wacana-wacana baru, akan lebih banyak dijumpai “di luar” kerangka organisasi daerah. Secara ekstrem, organisasi daerah dianggap tidak mampu memfasilitasi need of achievement yang melekat dalam perkembangan mental generasi muda. Berbagai perkembangan teknologi sebagaimana sebelumnya, kian memudahkan siapa saja untuk memperoleh wacana-wacana baru tersebut.&lt;br /&gt;Kurang lebih dengan permasalahan generasi muda sebagai subjek permasalahan, fenomena organisasi daerah sebagai objek, meskipun independen, akan berhadapan dengan kompleksnya permasalahan generasi mudanya. Masalah organ daerah sangat tergantung pada pelaksananya. Bahkan lebih parah, telah dianggap sebagai sebuah kewajaran ketika tanggungjawab mengenai organisasi daerah adalah “otoritas” beberapa gelintir pihak tertentu saja. Saling terkaitnya permasalahan tersebut, sebenarnya memudahkan upaya mencari akar permasalahan dan menemukan solusi yang tepat bagi permasalahan tersebut. Tanpa adanya interest tentang organisasi daerah, persoalan tanggungjawab pelaksanaan organisasi daerah mustahil terselesaikan, dan tanpa adanya variasi gagasan yang hanya muncul jika interest untuk berkontribusi dalam organisasi daerah cukup tinggi, mustahil organisasi daerah dapat beranjaka dari permasalahan kurang marketable –nya gagasan dan program yang akan dikerjakan.&lt;br /&gt;Selanjutnya, langkah yang diambil haruslah lebih strategis, bahkan sampai level teknis kegiatan sekalipun. Secara garis besar, profesionalisme pelaksanaan organisasi daerah ternyata belum cukup terbukti. Dalam pemahaman dan skala yang lebih luas, strategis berarti bahwa setiap langkah yang diambil tetap pada batsan-batasan untuk mewujudkan tujuan bersama. Tanpa adanya koreksi dalam penentuan tiap langkah yang akan ditempuh oleh sebuah organisasi dapat membawa organisasi daerah ke arah yang salah dan besar kemungkinan justru menjadi pemicu konflik disintegrasi yang rawan dan dekat dengan fenomena organisasi daerah. Beberapa pengalaman mencatat bahwa organisasi daerah telah bergeser dari koridor organisasi sosialkultural, tapi telah menjadi “alat” bagi kepentingan beberapa orang saja. Dengan argumen tanpa upaya tersebut, kepentingan organisasi daerah sendiri tidak terfasilitasi, berbagai kejadian tersebut terlegitimasi menjadi sebuah kewajaran.&lt;br /&gt;Terlepas dari kompleksitas permasalahan organ daerah tersebut, agaknya masih relevan untuk berkaca pada kejadian 76 thn yang lalu. Tanpa bantuan dari pihak manapun, hanya bermodalkan kesadaran kritis dan tanggungjawab moral, para pemuda dapat menyusun sebuah akar bagi terwujudnya kemerdekaan.&lt;br /&gt;Pertanyaan yang harus dijawab sekarang adalah dimana posisi kita sendiri di tengah kegamangan generasi muda pada umumnya dan kegamangan organisasi daerah dalam upayanya menemukan posisi yang tepat, bukan hanya sebagai wadah bagi apologi-apologi yang picik? Berasumsi dari kecenderungan yang cukup besar pada generasi muda sekarang untuk bersikap apologis dengan berbagai pembenaran retoris terkait dengan perubahan dan permasalahan yang muncul? Apakah kita masih menjadi penonton dan merelakan roda waktu menentukan arah perjalanan yang akan kita lalui? atau mungkin kita tidak lagi menonton, tapi apakah langkah kita cukup strategis dengan berbagai permasalahan di atas? Bukan jawaban bung! Hanya kerja yang bisa menjawabnya !!.&lt;br /&gt;*Sekretaris Umum KPM Galuh Rahayu Ciamis-Yogyakarta 2007-2009, Aktivis HMI, Aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND-PRM) Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/254814692294211571-8124848929661007236?l=muhtadinreform.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/254814692294211571/posts/default/8124848929661007236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/254814692294211571/posts/default/8124848929661007236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhtadinreform.blogspot.com/2009/01/problematika-dan-realitas-organisasi.html' title='PROBLEMATIKA DAN REALITAS ORGANISASI MAHASISWA DAERAH'/><author><name>M.MUHTADIN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06670739054270765445</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uYxdKulZfU8/SXAReQ1DSdI/AAAAAAAAAEA/Y3BjcFJDfow/S220/meee.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-254814692294211571.post-3742484713513901299</id><published>2008-12-24T07:38:00.000-08:00</published><updated>2008-12-24T07:40:03.952-08:00</updated><title type='text'>AGAMA, KEMERDEKAAN DAN CITA-CITA BANGSA</title><content type='html'>Oleh M.Muhtadin&lt;br /&gt;INDONESIA sebuah bangsa dan negara, sudah enam puluh tiga tahun Indonesia merdeka. Sebuah rentang waktu yang pada dasarnya masih tidak terlalu panjang untuk membangun sebuah negara yang berbasiskan pada prinsip dan nilai demokrasi. Karenanya, tugas yang berada di pundak kita, serta tantangan yang menanti di masa depan, masih sangatlah berat.Diperlukan bukan hanya usaha keras untuk menggapai semua cita-cita itu, tapi juga komitmen yang kuat dari seluruh elemen bangsa. Baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial-kebudayaan maupun juga pada aspek keagamaan.Bidang yang disebut terakhir ini juga memegang peranan yang tidak dapat dimarginalkan, sebab kenyataan bahwa bangsa Indonesia merupakan negara yang plural dalam hal anutan agamanya merupakan potensi sekaligus tantangan yang berat. Fenomena keagamaan yang berkembang belakangan ini, setidaknya memberikan gambaran konkret tentang hal itu. Tulisan ini mencoba memberikan sebuah refleksi serta deskripsi seputar aspek keagamaan di Indonesia, yang kiranya bisa menjadi bahan ilustrasi tentang tantangan dan peran keagamaan yang strategis untuk diimplementasikan di negara kita ini.Jika kita menengok pada sejarah berbagai agama, tampak jelas bagaimana agama tampil sebagai 'pahlawan' bagi elemen masyarakat yang pada kurun waktu itu menjadi korban berlakunya sistem yang despotik, diskrimainatif dan otoriter. Agama tampil sebagai 'pejuang' bagi kemerdekaan kelompok masyarakat yang tertindas oleh struktur yang demikian. Baik itu struktur politik, sosial-budaya serta ekonomi. Sejarah agama Yahudi, membuktikan kepada kita bagaimana NabiMusa tampil sebagai penentang keras penguasa despotic Firaun, dengan tawarannya berupa sebuah konsep keagamaan. Nabi Isa juga menjadi pahlawan perlawanan rakyat kecil terhadap penguasa yangsemena-mena di kala itu. Demikian juga halnya dengan perjuangan Nabi Muhammad dengan konsep keislamannya, yang dengan gemilang berhasil meruntuhkan sistem politis, sosial-kultur, dan ekonomi masyarakat Arab yang diskriminatif. Fenomena yang sama dapat juga kita rujuk pada agama-agama yang lain. Jika ditarik pada konteks era modern saat ini, posisi agama pada saat kelahirannya ibarat sebuah kekuatan serta gerakan sosial yang berada 'di seberang' status quo, yang memiliki orientasi utama pada perjuangan prinsip serta nilai keadilan, kesetaraan dan kemerdekaan.Dengan konsep yang diusungnya, agama memainkan peran apik sebagai sebuah kekuatan yang akhirnya mampu menumbangkan sistem politik serta struktur sosial yang sama sekali tidak mencerminkan rasa keadilan tersebut. Kala itu, agama benar-benar berhasil menjelma menjadi kekuatan strategis yang sangat ditakuti oleh mereka yang menikmati serta menguasai sistem serta struktur politik, sosial-budaya dan ekonomi yang diskriminatif. Karenanya, kelahiran serta perkembangan agama selalu mendapatkan perlawanan keras nan sengit dari penguasa status quo. Mereka berupaya aktif untuk meredam perlawanan sosial, politis dan kultural yang basis perjuangannya dikobarkan oleh semangat keagamaan.Konsep MuliaSejarah panjang kelahiran dan perkembangan agama ini membuktikan kepada kita bahwa agama pada dasarnya memiliki sebuah konsep yang sangat mulia, strategis, dan vital. Yaitu konsep untuk membangun serta mencapai sebuah sistem, struktur serta realitas sosial yang berdasarkan pada prinsip dan nilai keadilan, kesetaraan serta kebebasan. Dan, jika sejarah agama-agama ini kita tarik dalam konteks dunia modern dewasa ini, kita akan mendapatkan pelajaran penting perihal fungsi serta peran dasar dari agama. Di era modern saat ini, dengan prinsip politik demokrasi, hal-hal yang berkenaan dengan upaya memberikan jaminan kebebasan untuk berekspresi, kesejahteraan ekonomi, keadilan sosial, serta kesetaraan kultural, menjadi tugas negara untuk merealisasikannya. Termasuk dalam hal ini adalah jaminan yang terkait dengan persoalan memilih, menganut serta mengekspresikan keyakinan keagamaan. Negara, memiliki kewajiban penuh atas hal itu. Namun, secara faktual, tugas serta peranan tersebut terkadang tidak dapat dimainkan dengan maksimal. Bahkan sebaliknya, dalam kasus dan kondisi tertentu, peran dan fungsi negara justru berbanding terbalik dengan yang seharusnya dijalankan. Negara tidak mampu menjamin kesejahteraan ekonomi rakyatnya, tidak mampu menciptakan jaminan keadilan sosial, dan bahkan juga tidak mampu memberikan jaminan kebebasan bereks- presi.Tentu banyak hal yang dapat melatarbelakangi terciptanya kondisi demikian. Mungkin saja karena karakter kepemimpinan politiknya, kinerja pemerintahannya atau juga kondisi sebuah bangsa yang masih dalam tahap membangun dan menjalani proses berdemokrasi.Apapun latar belakang penyebabnya, dalam kondisi seperti itu, dengan mengacu pada sejarah kelahiran serta perjuangannya, posisi dan peranan agama seharusnya sangat strategis dan vital. Kondisi di mana negara tidak atau belum mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan optimal, adalah saat di mana agama seharusnya mampu memainkan peranan sebagai kekuatan 'alternatif'. Kekuatan alternatif yang dimaksud di sini dalam kerangka pengertian berikut ini. Pertama, agama mengemban tanggung jawab untuk membantu rakyat memperjuangkan hak-hak kewarganegarannya. Jika negara tidak menjalankan fungsinya untuk menciptakan sebuah sistem yang mencerminkan terimplementasikannya prinsip keadilan sosial, kesejahteraan ekonomi serta kesetaraan kultural, maka agama (wan) memiliki tanggung jawab untuk membantu rakyat mendapatkan hal itu.Misalnya dengan cara mengintensifkan gerakan penyadaran masyarakat dengan tujuan utama menciptakan sebuah masyarakat yang kritis terhadap realisasi kewajiban negara atas rakyatnya. Agama (wan) dalam kondisi seperti itu, memanggul tanggung jawab untuk menjadi kekuatan 'penyeimbang' atas negara.Terutama jika negara menjalankan sebuah sistem politik dan kenegaraan yang otoriter dan despotik. Agama, memiliki tugas untuk menyadarkan masyarakat akan \kondisi seperti itu, sehingga mereka memiliki motivasi yang kuat untuk merubah kondisi serta mendapatkan hak-hak kewarganegaraannya. Sebagaimana halnya pada masa awal kelahirannya, agama mampu memainkan peran apik sebagai motivator perubahan dan pencipta masyarakat kritis, dalam kondisi seperti ini agama juga dituntut untuk berperan demikian. Termasuk dalam hal ini adalah tanggung jawab agama (wan) untuk mencegah dilakukan intervensi oleh negara terhadap kebebasan rakyat dalam menganut dan mengekspresikan keyakinan agamanya. Agama (wan) memanggul tugas ini.Kedua, tatkala negara tidak mampu menjalankan fungsi serta merealisasikan perannya secara optimal, atau bahkan mandul, agama memiliki tanggung jawab untuk tampil menjadi kekuatan 'alternatif' untuk merealisasikan cita-cita kebangsaan. Sebenarnya ini bukan peran yang muluk dan sulit diwujudkan, jika saja interpretasi konsep keagamaan diarahkan pada orientasi ini.Tidak hanya terpaku pada orientasi yang bersifat normatif, konservatif, dan formalistik-ritualistik. Dan jika kita mengacu pada sejarah kelahirannya, orientasi ke arah inilah yang sebenarnya menjadi dasar tumbuh dan berkembangnya semua agama.Agama bukan hanya konsep tentang bagaimana cara manusia menyembah Tuhannya secara ritual, tapi lebih dari itu, yaitu bagaimana para penganutnya mampu mentransformasikan kesalehan ritualnya menjadi kesalehan sosial. Agama adalah sebuah tawaran konseptual bagaimana seorang individu mampu tampil dengan karakter kuatnya untuk memperjuangkan tegaknya keadilan, kebebasan dan egalitarianisme dalam realitas dimana ia hidup.Selain itu, agama juga tidak sekadar mengarahkan penganutnya pada orientasi transcendental, namun juga imanental. Artinya, agama tidak memfokuskan para penganutnya pada aspek ritual-formalistik, namun juga aspek materiil. Agama memerintahkan para penganutnya untuk meraih kesejahteraan ekonomi. Jika fungsi dan peran agama yang demikian mampu dijalankan, maka tidak optimalnya peran dan fungsi negara dapat tergantikan.Mencapai Cita-citaKetiga, dalam sebuah negara-bangsa yang sedang menjalani proses membangun dan berdemokrasi, agama dapat memainkan peran untuk membantu serta mendorong tercapainya cita-cita tersebut. Agama, dalam hal ini dapat memainkan peran serta menjalankan fungsi sebagai 'kekuatan lain' selain negara, dalam mewujudkan cita-cita serta tujuan kenegaraan-kebangsaan.Di usia yang keenam puluh tiga tahun ini, Indonesia sebenarnya memiliki banyak fenomena yang penting untuk direfleksikan sebagai bahan dasar menata masa depan bangsa dan negara ini. Termasuk dalam aspek keagamaan. Optimalisasi peran dan fungsi keagamaan, sebenarnya sangat strategis dalam membantu upaya meraih cita-cita kebangsaan-kenegaraan Indonesia. Eksistensi kita sebagai bangsa yang bukan hanya besar, namun juga plural, adalah potensi yang sangat berharga. Pluralitas Indonesia dalam aspek keagamaan, adalah salah satunya. Jika potensi keagamaan ini dioptimalkan fungsi dan perannya, maka niscaya bangsa ini akan tampil sebagai yang terdepan. Peran agama di Indonesia harus mampu mencapai taraf yang sangat optimal dalam membantu bangsa ini menggapai cita-cita dan stujuan kemerdekaannya. ** Penulis adalah Sekretaris Umum KPM Galuh Rahayu Ciamis-Jogjakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/254814692294211571-3742484713513901299?l=muhtadinreform.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/254814692294211571/posts/default/3742484713513901299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/254814692294211571/posts/default/3742484713513901299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhtadinreform.blogspot.com/2008/12/agama-kemerdekaan-dan-cita-cita-bangsa.html' title='AGAMA, KEMERDEKAAN DAN CITA-CITA BANGSA'/><author><name>M.MUHTADIN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06670739054270765445</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uYxdKulZfU8/SXAReQ1DSdI/AAAAAAAAAEA/Y3BjcFJDfow/S220/meee.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-254814692294211571.post-672639736465112013</id><published>2008-12-02T09:38:00.000-08:00</published><updated>2008-12-02T09:43:10.534-08:00</updated><title type='text'>HIKMAH IDUL FITRI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H&lt;br /&gt;HIKMAH IDUL FITRI UNTUK KEMBALI KE HAKIKAT FITRAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh : M.Muhtadin*&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”&lt;br /&gt;(Q.S. Ar-Ruum ayat 30)&lt;br /&gt;Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar….&lt;br /&gt;Allahu Akbar Lailahaillallah huwllahu akbar Allahu Akbar Walillahilhamd…&lt;br /&gt;Dengan bacaan kalimah takbir,tahmid,dan tahlil umat Islam melepaskan bulan Ramadan yang penuh kemulyaan dan dengan takbir, tahmid, dan tahlil pula kita sambut 1 Syawal 1429 H.&lt;br /&gt;Seiring terbenamnya mentari di akhir romadhon, terdengar bertalu-talu alunan takbir, tahmid, dan tahlil yang bergema keseluruh pelosok negeri sebagai ekspresi rasa syukur,dan memuji keagungan Allah SWT. dan kegembiraan kaum muslimin dengan datangnya Idul Fitri. Hari dimana ummat Islam yang telah melaksanakan puasa dibulan romadhon dengan penuh kekhusukan menemukan ampunan dan janji Allah SWT, kembali kepada sebuah kesucian dan karenanya hari itu pun disebut dengan hari Raya Idul Fitri.&lt;br /&gt;Idul fitri adalah hari kemenangan besar, yang mengembalikan manusia pada fitrahnya (kesucianya) dimana jiwa kembali bersih karena dibasuh dengan ibadah, fitrah dan saling memaafkan. Serta rezeki yang kita miliki telah dicuci pula dengan zakat. Kembali kepada kesucian artinya dengan merayakan Idul Fitri ini kita mendeklarasikan kesucian kita dari berbagai dosa sebagai buah dari ibadah sepanjang bulan Ramadan.&lt;br /&gt;Yang lebih penting, semoga saja tak cuma simbol yang melekat pada diri kita selepas puasa sebulan penuh ini. Segala aspek kehidupan yang lurus yang kita jalani selama Ramadhan ini hendaknya menjadi titik tolak untuk melangkah ke depan. Hal ini kita mulai dari diri kita sendiri, barulah kemudian ke jenjang yang lebih besar yakni saudara, keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas, termasuk bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Memaknai Hakikat Idul Fitri&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Memaknai esensi Idul Fitri, sebenarnya bisa diimplementasikan dalam bentuk perenungan kembali akan kondisi yang telah diberikan Alloh SWT kepada ummat manusia. Karenanya, memaknai idul fitri sebanarnya tidak lain adalah seberapa jauh kita mampu menghadirkan hikmah, suatu tata nilai rohani positif yang tersembunyi dibalik ketaatan dalam kehidupan rutin kita yang ditemukan dari balik proses pelaksanaan perintah puasa yang sebulan penuh itu, karena hikmah itu sendiri merupakan rahasia yang diberikan oleh Allah setelah adanya Mujahadah maka tentunya hikmah itu akan berbeda bentuknya antara satu individu dengan individu yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Idul Fitri kembalinya manusi pada fitrahnya&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Idul Fitri mengingatkan kembali kepada kita bahwa tiap individu dilahirkan dalam keadaan Fitrah atau suci, namun dalam perjalanan hidupnya ia dicemari oleh lingkungan serta berbagai macam polusi, noda dan dosa. Islam mengajarkan pula bahwa pada dasarnya manusia memiliki sifat dasar yang baik, oleh karena itu kebaikan dan kebenaran merupakan bagian yang tak terpisahkan dari jati diri manusia.&lt;br /&gt;Setelah sebulan penuh jiwa kita ditempa dan diasah, seyogianyalah ketika kita merayakan Idul Fitri, kita dapat meraih hasil yang menggembirakan berupa kadar takwa yang lebih mendalam. Karena sesungguhnya semangat Idul Fitri ini tidak lain hanyalah konsekuensi takwa kita kepada Allah Yang Maha Agung.&lt;br /&gt;Berhari raya Idul Fitri, bukan saja merupakan perayaan rampungnya suatu tugas suci yang mahabesar yang dilaksanakan pada bulan Ramadan. Berhari raya, juga berarti merayakan kembalinya sifat kemanusiaan yang setinggi-tingginya. Rasa cinta kasih, menahan marah dan bersifat pemaaf, harus menghiasi jiwa yang merayakannya. Sikap batin inilah yang merupakan wujud nyata dari fitrah manusia yang ditetapkan oleh Allah terhadap sifat asal manusia, sesuai dengan gambaran dalam Qur’an surat Ar-ruum ayat 30&lt;br /&gt;Idul Fitri Momentum untuk saling bermaaf-maafan.&lt;br /&gt;Momentum Idul Fiti inilah mari kita jadikan untuk bersilaturahmi dengan keluarga, tetangga, dan warga masyarakat, dengan saling memaafkan, dimana pemaafan mengandung tiga dimensi dan langkah penting:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pertama,&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; pemaafan hendaknya dimulai dengan ingatan yang disertai penilaian moral. Dalam persepsi umum, pemaafan cenderung dipahami sebagai melupakan kesalahan dan kejahatan individu atau kelompok. Sebenarnya pemaafan berarti "mengingat" dan sekaligus memaafkan. Dalam islam, proses ini disebut muhasabah, yakni saling "menghitung" atau "menimbang" peristiwa-peristiwa yang melukai pihak-pihak tertentu. Melalui muhasabah, berbagai pihak melakukan introspeksi dan sekaligus penilaian moral terhadap kejadian-kejadian yang merugikan perorangan maupun masyarakat banyak.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kedua,&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; mengembangkan sikap empati terhadap realitas kemanusiaan pelaku kesalahan; bahwa setiap manusia biasa dapat terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan yang merugikan orang lain. Tidak ada jaminan, seseorang tidak akan terjerumus ke dalam kesalahan atau kenistaan. Pengakuan tentang kelemahan kemanusiaan ini merupakan sikap empati yang mendorong pemaafan.&lt;br /&gt;Sikap empati sangat dianjurkan Islam. Meski Alquran menyatakan, manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk (fi ahsan al-taqwim), tetapi ia bisa terjerumus ke dalam asfal al-safilin, tempat paling nista, karena perbuatannya sendiri. Karena kelemahan ini manusia diperintahkan senantiasa meningkatkan kualitas iman dan amal salehnya; selalu memohon ampun kepada Tuhan; dan meminta maaf kepada orang lain yang dilukainya. Sebaliknya, mereka yang disakiti juga dianjurkan memberi maaf.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Ketiga,&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; mengembangkan pemahaman bahwa pemaafan yang tulus bertujuan memperbarui hubungan antar manusia. Jadi, pemaafan bukan sekadar aktualisasi sikap moral bernilai tinggi yang berdiri sendiri, tetapi juga bertujuan untuk perbaikan (ishlah) hubungan antarmanusia yang bisa diselimuti kebencian dan dendam. Dengan kandungan mulia ini, pemaafan juga berarti kesiapan hidup berdampingan secara damai di antara manusia-manusia yang berbeda dengan segala kelemahan dan kekeliruan masing-masing.&lt;br /&gt;Demikianlah, pemaafan yang menjadi bagian integral dari esensi Idul Fitri sepatutnya tidak hanya saling berjabat tangan; tetapi menjadi momentum bagi pemaafan yang tulus semua elemen pribadi, keluarga, tetangga, dan warga masyarakat.&lt;br /&gt;Untuk itu melalui Idul Fitri 1429 H ini , kita tabur benih kedamaian, kita tanam pohon kasih sayang, dan kita kibarkan bendera salam. Antara kita, antar sesama muslim,sesama saudara, keluarga, tetangga, antar sesama warga negara sehingga islah, rekonsiliasi, dan perdamaian benar-benar terwujud di bumi pertiwi ini.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;*Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Al-Hasan Ciamis-Jabar, Mahasiswa Fak. Syariah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/254814692294211571-672639736465112013?l=muhtadinreform.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/254814692294211571/posts/default/672639736465112013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/254814692294211571/posts/default/672639736465112013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhtadinreform.blogspot.com/2008/12/hikmah-idul-fitri.html' title='HIKMAH IDUL FITRI'/><author><name>M.MUHTADIN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06670739054270765445</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uYxdKulZfU8/SXAReQ1DSdI/AAAAAAAAAEA/Y3BjcFJDfow/S220/meee.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-254814692294211571.post-6615436117391036655</id><published>2008-09-24T11:51:00.000-07:00</published><updated>2008-09-24T11:53:02.724-07:00</updated><title type='text'>WILUJENG BOBORAN SIAM 1429 H</title><content type='html'>Assalaau’alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;Cunduk kana waktu, ninggang kana mangsa&lt;br /&gt;Urang bakal papisah jeung bulan anu pinuh barokah&lt;br /&gt;Pajauh jeung tamu agung nu langka tepung&lt;br /&gt;Paanggang jeung mangsa anu pinuh ampunan&lt;br /&gt;Ayeuna urang patepung jeung akhir syiam&lt;br /&gt;Bulan syawal 1429 Hijriah&lt;br /&gt;Mangrupakeun ciri pikeun kauunggulan jalma nu iman&lt;br /&gt;Unggul dina merangan hawa nafsuna&lt;br /&gt;Diwiwitan ku niat nu buleud&lt;br /&gt;Seja ibadah kanu Maha Kawasa&lt;br /&gt;Dipungkas ku zakat jeung sholat ‘Idul Fitri&lt;br /&gt;Pikeun nyampurnakeun bersihna diri&lt;br /&gt;Silih hampura geus jadi cirri&lt;br /&gt;Silih do’akeun geus jadi adat&lt;br /&gt;Sanajan raga paanggang, teu bisa amprok dampal panangan&lt;br /&gt;Ngan saukur bisa ngirim surat, chating jeung SMSsan&lt;br /&gt;Kalayan dibarengan ku kaihlasan, neda dihapunten samudaya kalepatan&lt;br /&gt;“Taqobalallohu mina wa minkum syiamana wa syiamakum”&lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum Wr. Wb.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/254814692294211571-6615436117391036655?l=muhtadinreform.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/254814692294211571/posts/default/6615436117391036655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/254814692294211571/posts/default/6615436117391036655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhtadinreform.blogspot.com/2008/09/wilujeng-boboran-siam-1429-h_24.html' title='WILUJENG BOBORAN SIAM 1429 H'/><author><name>M.MUHTADIN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06670739054270765445</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uYxdKulZfU8/SXAReQ1DSdI/AAAAAAAAAEA/Y3BjcFJDfow/S220/meee.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-254814692294211571.post-194198622000934136</id><published>2008-09-11T04:54:00.002-07:00</published><updated>2008-09-11T06:07:21.307-07:00</updated><title type='text'>ARAH PERJUANGAN DAN PERAN IDEAL MAHASISWA</title><content type='html'>OLEH : M.MUHTADIN *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polemik dan diskurkus tentang mahasiswa dan gerakannya sudah lama menjadi pokok bahasan dalam berbagai kesempatan. Masalah ini memang menyedot perhatian berbagai kalangan terutama mahasiswa itu sen-diri. Begitu banyaknya forum-forum diskusi yang diadakan, telah menghasilkan pula pelbagai tulisan, makalah, maupun buku-buku yang diterbitkan tentang hakikat, peranan, dan kepentingan ge- rakan mahasiswa dalam pergulatan politik kontemporer di Indonesia. Terutama dalam konteks keperduliannya dalam merespon masalah-masalah sosial yang terjadi dan berkembang di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;Mahasiswa merupakan suatu elemen masyarakat yang unik. Jumlahnya tidak banyak, namun sejarah menunjukkan bahwa dinamika bangsa ini tidak lepas dari peran mahasiswa. Semangat-semangat yang berkobar terpatri dalam diri mahasiswa, semangat yang mendasari perbuatan untuk melakukan peruba-han-perubahan atas keadaan yang dianggapnya tidak adil. Mimpi-mimpi besar akan bangsanya. Intuisi dan hati kecilnya akan selalu menyerukan idealisme. Mahasiswa tahu, ia harus berbuat sesuatu untuk masyarakat, bangsa dan negaranya.&lt;br /&gt;Mahasiswa senantiasa menjadi motor penggerak perubahan. Keinginan yang kuat dalam menyongsong masa depan dan keterbukaannya melihat beragam sisi kehidupan, mendorong mahasiswa bangkit dari tiap keterpurukan. Kecekatan bekerja dan kekritisan berfikir yang disertai rasa tanggung jawab, menjadi penyejuk bagi zaman yang kian “edan”. Tak berlebihan jika istilah “pemuda adalah tulang punggung bangsa” selalu jadi pedoman. Dengan kombinasi luar biasa yang dimilikinya, mahasiswa mampu tampil di depan memegang kendali sebuah peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran moral&lt;br /&gt;Mahasiswa yang dalam kehidupanya tidak dapat memberikan contoh dan keteladanan yang baik berarti telah meninggalkan amanah dan tanggung jawab sebagai kaum terpelajar . Jika hari ini kegiatan mahasiswa berorientasi pada hedonisme (hura - hura dan kesenangan) maka berarti telah berada persimpangan jalan . Jika mahasiswa hari ini lebih suka mengisi waktu luang mereka de-ngan agenda rutin pacaran tanpa tahu dan mau ambil tahu tentang peruban di negeri ini, jika hari ini mahasiswa lebih suka dengan kegiatan festival musik dan kompetisi (entertaiment) dengan alasan kreativitas, dibanding memperhatikan dan memperbaiki kondisi masyarakat dan mengalihkan kreativitasnya pada hal - hal yang lebih ilmiah dan menyentuh kerakyat maka mahasiswa semacam ini adalah potret “generasi yang hilang “yaitu generasi yang terlena dan lupa akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemuda dan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran sosial&lt;br /&gt;Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa-jiwa sosial yang dalam atau dengan kata lain solidaritas sosial. Solidaritas yang tidak dibatasi oleh sekat sekat kelompok, namun solidaritas sosial yang universal secara menyeluruh serta dapat melepaskan keangkuhan dan kesombo-ngan. Mahasiswa tidak bisa melihat penderitaan orang lain, tidak bisa melihat penderitan rakyat, tidak bisa melihat adanya kaum tertindas dan dibiarkan begitu saja. Mahasiswa dengan sifat kasih dan sayangnya turun dan memberikan bantuan baik moril maupun materil bagi siapa saja yang memerlukannya.&lt;br /&gt;Peran akademik&lt;br /&gt;Peran yang satu ini teramat sangat penting bagi kita, dan inilah yang membedakan kita dengan komonitas yang lain, peran ini menjadi symbol dan miniatur kesuksesan kita dalam menjaga keseimbangan dan memajukan diri kita. Jika memang kegagalan akademik telah terjadi maka segeralah bangkit,”nasi sudah jadi bubur” maka bagaimana sekarang kita membuat bubur itu menjadi “ bubur ayam spesial “. Artinya jika sudah terlanjur gagal maka tetaplah bangkit serta mancari solusi alternatif untuk mengembangkan kemampuan diri meraih masa depan yang cerah dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran politik&lt;br /&gt;Peran politik adalah peran yang paling berbahaya karena disini mahasiswa berfungsi sebagai presser group ( group penekan ) bagi pemerintah yang zalim. Oleh karena itu pemerintah yang zalim merancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mengambil peran yang satu ini. Pada masa ordebaru dimana daya kritis rakyat itu di pasung, siapa yang berbeda pemikiran dengan pemerintah langsung dicap sebagai makar dan kejahatan terhadap negara. Pemerintahan Orba tidak segan-segan membumi hanguskan setiap orang-orang yang kritis dan berseberangan de-ngan kebijakan pemerintah.&lt;br /&gt;Mahasiswa adalah kaum terpelajar dinamis yang penuh dengan kreativitas. Mahasiswa adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari rakyat. Sekarang mari kita pertanyaan pada diri kita yang memegang label Mahasiswa. Kini zaman menghadapkan kita pada beragam persoalan yang kian kompleks. Bangsa ini tak membutuhkan manusia yang bermental pekerja. Bangsa ini tak memerlukan manusia-manusia robot yang hanya tunduk perintah sang bos tanpa memiliki kreativitas mengembangkan diri dalam memba-ngun masyarakatnya. Bangsa ini membutuhkan pemikir dan pemimpin yang peduli dan memiliki integritas. Sudah seharusnya mahasiswa memiliki pemahaman persoalan bangsa dan memiliki kadar intelektual yang bisa diandalkan. Saatnya mahasiswa maju, singsingkan lengan baju. Hilangkan fanatisme kepentingan kelompok maupun individu. Mahasiswa mesti mengedepankan persatuan demi sebuah perubahan. Kalau bukan kepada mahasiswa, kepada siapa lagi rakyat berharap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis Sekretaris Umum KPM Galuh Rahayu Ciamis-Jogjakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/254814692294211571-194198622000934136?l=muhtadinreform.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/254814692294211571/posts/default/194198622000934136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/254814692294211571/posts/default/194198622000934136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhtadinreform.blogspot.com/2008/09/arah-perjuangan-dan-peran-ideal.html' title='ARAH PERJUANGAN DAN PERAN IDEAL MAHASISWA'/><author><name>M.MUHTADIN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06670739054270765445</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uYxdKulZfU8/SXAReQ1DSdI/AAAAAAAAAEA/Y3BjcFJDfow/S220/meee.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-254814692294211571.post-7001481411562419264</id><published>2008-09-11T04:54:00.001-07:00</published><updated>2008-09-11T05:07:54.716-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_uYxdKulZfU8/SMkKA5w0IiI/AAAAAAAAAB4/KizKQOgPy84/s1600-h/AKTIVIS.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244734251671495202" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_uYxdKulZfU8/SMkKA5w0IiI/AAAAAAAAAB4/KizKQOgPy84/s320/AKTIVIS.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_uYxdKulZfU8/SMkJKGaPxwI/AAAAAAAAABw/zPJ3ODE7wyo/s1600-h/AKTIVIS.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/254814692294211571-7001481411562419264?l=muhtadinreform.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/254814692294211571/posts/default/7001481411562419264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/254814692294211571/posts/default/7001481411562419264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhtadinreform.blogspot.com/2008/09/blog-post.html' title=''/><author><name>M.MUHTADIN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06670739054270765445</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uYxdKulZfU8/SXAReQ1DSdI/AAAAAAAAAEA/Y3BjcFJDfow/S220/meee.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_uYxdKulZfU8/SMkKA5w0IiI/AAAAAAAAAB4/KizKQOgPy84/s72-c/AKTIVIS.jpg' height='72' width='72'/></entry></feed>
